impian dari plastik

Ini cerita semalam, mampir ke toko yang dari namanya sih menunjukkan jam operasional buka toko selama 24jam, karena harus membeli obat sakit kepala. Saya beli 2 strip obat. Oleh kasir, obat tadi dimasukkan kedalam kantung plastik kecil, yang biarpun kecil tetap saja terlalu besar untuk ukuran 2 strip obat itu.
Saya hanya mengambil obatnya kemudian kantung plastik saya kembalikan kekasir. Saya pikir mereka akan senang karena bisa berhemat 1 lembar kantung plastik. Ternyata diluar dugaan, sang kasir justru cemberut sambil ngedumel agak panjang. Yang terdengar oleh saya hanya “iih udah dikasi plastik biar mudah bawanya malah gak mau”.
Saya cuma bisa tarik nafas panjang sambil berlalu keluar toko. Karena sudah malam dan saya terlalu malas meladeni dumelan panjang itu.

Beberapa waktu lalu juga pernah mengalami hal yang serupa. Bedanya hanya kali ini lokasinya di matahari dept store. Kebetulan saat itu saya membawa tas besar, dan barang yang saya beli hanya sebuah baju yang masih bisa dimasukkan kedalam tas besar saya. Dikasir, saya minta belanjaan tanpa kantung plastik karena akan saya masukkan tas saja. Jawaban mas kasirnya saat itu begini, “eh kok gak pake plastik sih, nanti saya dibilang gak sopan” lalu saya jawab “oh makasih mas, mas tetep sopan kok. Saya cuma gak mau pake plastik karena mau saya bawa pake tas saya. Lagi pula kan kalian bisa hemat kantung plastik”.
Ternyata dia memaksa memasukkan belanjaan kedalam kantung plastik sambil bilang “gak apa-apa mbak, matahari kaya kok. gak mungkin bangkrut hanya karena 1 kantung plastik” wew.. 😦

Ok, mari berpositif thinking, Si kasir tadi hanya ingin memberi pelayanan yang baik bagi pembelinya. Bukankah saya menolak plastik itu juga dengan sopan. Dan saya kok sedih dengan respon kasir-kasir itu ya.
Kalaulah usaha saya menolak plastik ini ada pengaruhnya untuk pencegahan global warming saya bersyukur. Gak mau muluk-muluk ya, paling tidak saya sudah berusaha mengurangi sampah plastik yang keluar dari rumah saya. Apa itu salah?

Tidak bisa saya bayangkan jika, pagi hari belanja sayur dapat kantung plastik. Siang hari beli cemilan dapat kantung plastik. Beli ini itu dapat kantung plastik. Belum lagi plastik dari kemasan. Terus terang saya ndak tega kalau akan jadi sebanyak itu sampah-sampah plastik yang akan dihasilkan.
Saya memang belum bisa ikut membantu mengurangi gunungan sampah di TPA sana, bahkan mungkin sampah rumah tangga yang diangkut oleh ‘bapak tukang sampah’ dari rumah ini pun pada akhirnya akan berujung disana. Paling tidak, saya cukup puas bila saya tidak ikut menambahkan jumlah sampah plastiknya. Karena yang saya tau, butuh waktu berpuluh-puluh tahun bagi tanah untuk me-recycle sebuah sampah plastik. Dan saya yakin kita semua masih butuh tanah yang bersih tanpa sisa-sisa plastiknya.

Sempat hadir pikiran konyol ini, bagaimana jika sampah-sampah plastik tadi dikumpulkan, kemudian dipress dan dibentuk persegi empat (semacam jerami yang ada di film-film itu) berukuran besar kemudian diikat menggunakan kawat yang kuat disisi-sisinya. Kubus-kubus sampah ini dimasukkan kedalam laut untuk membuat pulau-pulau baru. Seperti halnya negara-negara yang berhasil memiliki pulau-pulau buatan, mungkin nantinya disini akan bisa juga buat pulau tambahan berbahan dasar sampah plastik. hehe.. Hayalan ini mungkin terlalu tinggi. Dan impian ini terlalu konyol. Tapi dengan teknologi yang semakin hari semakin maju ini, semoga saja ada jalan untuk mengurangi ketinggian gunungan sampah itu. Amiin 🙂

3 Responses to “impian dari plastik”

  1. Hendra W Saputro Says:

    Aku sering nolak plastik ketika ke sirkel ke, indomart dll. Mungkin beda perlakuan antara ia dan aku. Klo aku, cukup kusodorkan kembali plastiknya dan ngeloyor keluar. Blum pernah denger dumelan itu. Namun jika ada dumelan dr sang kasir, ya kubiarkan saja. Yg tahu niatku hanyalah Allah SWT. Huahaha, aslinya, aku nggak bisa debat sama mereka. Angkat kaki saja.

    Jika tetap dikasih, kupikir nggak masalah. Aku membayangkan, kubuat satu tonggak, dan kucantolkan disana semua plastik hasilku belanja. Kemungkinan asik dilihat sebagai tonggak sampah kapitalisasi industri. Byuh bahasanya. Jadi disana nanti, plastik-plastik dari semua merk akan terkumpul. Mungkin bisa jadi bahan renungan jika plastik-plastik itu dikumpulkan oleh banyak orang. Atau komunitas kita ini.

    Ada 1 hari kita berkumpul utk mengkampanyekan hari gantung plastik. Yup, just my imagination. Tapi tak bisa dipungkiri juga bahwa plastik itu kadang dipake bu kadek utk bungkus canang-canang nya. Piye to iki ?

    • indablu Says:

      mas henz,
      iya yah. sejujurnya saya jg ga bisa semudah itu terbebas dari plastik. karena buat membuang sampahnya pun saya masih harus pake kantong plastik. dan emang iya sih hampir semuanya sekarang dikemas pake bahan plastik.
      tapi yang penting niat awalnya. mengurangi. 🙂

  2. koming gata Says:

    hikz jadi terharu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


»
%d bloggers like this: