sinau sing bener biar jadi dokter

sinau sing pinter yo nduk, mengko lek gede ben iso dadi dokter

itu nasehat yang sering sumi kecil dengar saat jam-jam belajarnya. sudah lama sekali. sudah bertahun-tahun yang lalu. sekarang sumi besar sudah dewasa. pun tak jadi dokter. mungkin itu karena sumi tidak pintar 🙂

apakah hanya dokter saja yang termasuk orang pintar?
belum tentu.. banyak orang pintar disekeliling kita dengan pekerjaannya masing-masing.
lalu.. apakah untuk jadi dokter harus pintar?
ow ini sih pasti.. tapi selain pintar dalam ilmu pengetahuan, rasanya untuk jadi dokter juga harus memahami ilmu kanuragan aliyas ilmu jiwa, yaitu ilmu yang menyelami jiwa pasiennya. **ini sih sebutan saya saja**

kali ini saya cuma ingin mengeluarkan uneg-uneg tentang dokter. tentang dokter-dokter yang saya temui dan tentang bagaimana interaksinya. hampir setiap orang pasti akan sangat senang bila diperlakukan dengan baik. meski sebenarnya yang terjadi adalah sesuatu yang sangat tidak baik. memberi nasehat, saran dengan ucapan dan cara yang baik akan lebih mudah diterima. dan menurut saya dokter yang baik adalah dokter yang mampu menyampaikan sesuatu dengan baik meski sebenarnya yang akan disampaikan adalah kabar yang sangat-sangat tidak baik.

disaat sedang sakit atau merasa memiliki beban berat kita cenderung lebih sensitif. tak heran bila sebagian bahkan mungkin ada yang baru menyadari kasih sayang Tuhan disaat dirinya sakit. atau mungkin malah ada yang merasa disaat sakit itulah baru merasa sangat dekat dengan penciptanya. ah ya, dalam 1 tahun terakhir ini memang saya agak lebih sering berhubungan dengan dokter-dokter dan para perawat. mulai dari..

dokter H yang diawal pertemuan sangat terlihat care tapi di pertemuan selanjut-selanjutnya beliau justru lebih sibuk dengan pasiennya yang konsultasi via gadgetnya. hampir setiap pertanyaan yang saya ajukan akan dijawabnya tanpa menatap saya karena pandangannya sudah diblok kegadgetnya. dan saya pikir dokter ini sakti sekali. karena dia bisa menulis resep dan menjawab pertanyaan pasien tanpa melihat. sebenarnya dia sangat-sangat update untuk gadget sehingga menyediakan line khusus untuk konsultasi. kalau begitu mengapa masih menerima pasien diklinik yang mengakibatkan terpecahnya konsentrasi? entah ya apa memang dengan cara ini beliau menghargai pasien-pasiennya.

dokter B yang berikutnya. atas kejadian (yang tidak enak) yang saya alami dengan dokter H, secara tidak disengaja saya bertemu dengan dokter B. kesan pertama, cara bicaranya santai. sudah setengah baya sepertinya. tapi tetap gaul :). sering kali pertemuan dimulai dengan guyonan, “supaya tidak terlalu tegang” ucapnya. beliau bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi. bahkan pertanyaan tentang diluar penyakit pun beliau bersedia berbagi. dan beliau tidak pernah memaksakan satu jenis perawatan. cenderung memberikan beberapa pilihan. dan memberi kami waktu untuk memilihnya.

dokter D adalah dokter yang saya temui atas rekomendasi teman. awalnya saya mengunjunginya hanya ingin mencari perbandingan atas hasil pemeriksaan saja. beliau cenderung lebih pendiam. hanya bicara saat ditanya.  tapi ternyata dari hasil pemeriksaan yang kedua kali saya sudah emoh kembali lagi karena menurut saya sebagai dokter yang baik seharusnya mengerti bagaimana kejiwaan pasien, sehingga dalam menyampaikan sesuatu kepada pasien pun harus dengan cara yang bijaksana. bukan dengan kata-kata kasar yang membuat pasien makin stress dengan kondisi yang dialami.

tapi apapun itu, salut saya buat buat para dokter yang mau sabar memeriksa, memilihkan obat yang cocok sambil terus  memantau kondisi pasien setiap hari. juga buat para perawat baik yang berada dirumah sakit, maupun “perawat-perawat pribadi” yang sudah meluangkan waktu mampu meladeni pasien-pasien dengan segala kondisi yang pasti sangat tidak menyenangkan itu. sedikitnya sakit
adalah saat yang tidak menyenangkan bukan?

rasanya ucapan terima kasih itu tak cukup untuk mengungkapkan rasa bersyukur atas bantuan mereka-mereka ini. semoga untuk dokteratau perawat yang masih malu-malu menunjukkan rasa sayangnya saat mengobati, segera dibukakan hatinya. dan semoga semua kebaikannya menjadi berkahnya dikemudian hari nanti.:)

Advertisements

One Response to “sinau sing bener biar jadi dokter”

  1. luluk parwati Says:

    amin ,semoga sy bisa jadi doktar disuatu hari nanti


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: